Opini Uang Rakyat tabloid INFOKU 75



Fenomena Pemilu legislatif
Uang Rakyat kembali ke Rakyat
(Penulis Drs Ec Agung Budi Rustanto – Pimpinan Redaksi tabloid INFOKU – diolah dari 7 sumber berbeda)

Memang tidak dapat dipungkiri pemilu legislatif yang baru selesai digelar Rabu lalu merupakan pestanya rakyat.
 Mengapa penulis katakan pesta Rakyat, karena sebagian besar rakyat khususnya di Blora dapat merasakan uang dari para calon wakil rakyat.
Apapun istilahnya, seperti uang hadir untuk Kampanye, uang pengganti kerja atau uang lelah, toh yang mengeluarkan mereka para calon wakil Rakyat.
Apalagi para calon wakil rakyat yang selama ini bekerja digaji dari pemerintahan, tentunya gaji yang mereka terima dari uang rakyat yang digali dari pajak.
Sehingga sangatlah wajar bila uang yang mereka keluarkan selama kampanye kembali ke rakyat juga.
Menurut saya  bila pemberiaan calon wakil rakyat tersebut, tidak semuanya dikatakan Money Politic.

Politik dan uang mungkin merupakan dua hal berbeda namun tidak dapat dipisahkan. Untuk berpolitik orang membutuhkan uang dan dengan uang orang dapat berpolitik.
Istilah politik uang yang dalam bahasa Inggris money politic mungkin istilah yang sudah sangat sering didengar.
Istilah ini menunjuk pada penggunaan uang untuk mempengaruhi keputusan tertentu entah dalam Pemilu ataupun dalam hal lain yang berhubungan dengan keputusan-keputusan penting.
Dalam pengertian seperti ini uang merupakan alat untuk mempengaruhi seseorang untuk menentukan keputusan. Tentu saja dengan kondisi ini maka dapat dipastikan bahwa keputusan yang diambil tidak lagi berdasarkan baik tidaknya keputusan tersebut bagi orang lain tetapi keuntungan yang didapat dari keputusan tersebut.
Selain pengertian ini, istilah Politik Uang juga dapat dipakai untuk menunjuk pada pemanfaatan keputusan politik tertentu untuk mendapatkan uang. Artinya ialah kalangan tertentu yang memiliki akses pada keputusan politik dapat memanfaatkan keputusan tersebut untuk mendapatkan uang.
Kondisi ini disebutkan oleh Adi Sasono sebagai "Kapitalisme dalam tenda Oksigen". Penyebutan ini dijelaskan oleh Adi Sasono sebagai sebuah kondisi dimana pemerintah (penguasa) ikut 'bermain' dalam seluruh tindakan ekonomi masyarakat dengan melakukan sebuah system ekonomi tertutup dan protektif.
Keterlibatan pihak pengambil kebijakan dalam system ekonomi seperti ini menghasilkan ekonomi biaya tinggi yang tidak menguntungkan rakyat ketika sekelompok orang tertentu melindungi kepentingan pribadi dan kelompok mereka dengan mengendalikan arus suplai barang kebutuhan masyarakat.
Korupsi Caleg
Korupsi itu adalah mengambil hak-hak orang lain yang bukan miliknya dengan tujuan untuk kepentingan sendiri atau untuk kelompok tertentu dengan cara merugikan orang lain.
Bila dikaitkan dengan para caleg yang mengeluarkan dana besar selama kampanye hal ini sangatlah dimungkinkan.
Karena salah satu ciri-ciri koruptor diantaranya, saat pemilihan atau pencalonan diri sebagai Pemimpin/wakil Rakyat, mereka melakukan kecurangan.
Salah satu contoh yang di lakukan adalah membeli suara. Disitu jika kita cermati sebenarnya sudah bisa menyimpulkan dan kita selalu memunculkan tanda tanya apa maksud para calon koruptor ini.
Dan kita sebagai Rakyat yang memberikan suara kepada mereka (calon koruptor) tidak usah tergiur dengan uang, bagi kita uang tak seberapa itu jika di belanjakan langsung habis, tetapi jika Pemimpin yang jujur itu sulit menemukannya.
Kita sebagai warga Indonesia yang baik seharusnya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, koruptor terjadi karena Rakyatnya yang salah memilih, Rakyat kalah dengan uang.
Mulai saat ini mari kita tunjukan bahwa kita adalah Negara yang hebat, hebat memilih Pemimpin.
Kalau anda kurang setuju, mari kita kupas lagi masalah Pemimpin yang mudah keluar jalur sebagai kePemimpinannya.
Disini kita ambil contoh partai, kenapa kita ambil contoh partai ? karena sebagian besar para Pemimpin terlahir dari golongan partai.
Sebut saja Partai ONI (Ora Nduwe Isin), saat mereka masih akan mencalonkan sebagai Pemimpin mereka harus membutuhkan suara Rakyat agar si partai bisa memimpin sebagai wakil Rakyat, dan si partai berjuang agar Rakyat pada memilihnya.
Maka si partai terjun ke masyarakat dengan cara seolah-olah menebar janji dan bantuan berupa uang atau berupa pembangunan.
Dan partai sudah mengeluarkan uang yang cukup banyak, saat menebar janji biasanya langkah terakhir partai  yaitu memberikan support agar memilih dirinya (partai) dengan ucapan-ucapan yang cukup manis contoh
“jika saya nanti terpilih sebagai wakil Rakyat, desa ini akan saya beri bantuan yang lebih dari ini agar desa lebih maju”… (lho kenapa begitu, bukannya itu sudah kewajiban wakil rakayat untuk memakmurkan Rakyatnya).
Nah jika calon wakil Rakyat seperti itu, penulis yakin memberikan bantuan yang sudah di berikan tadi itu hanya lantaran ingin mencari suara dari Rakyat saja.
Dan nanti jika sudah terpilih, si partai akan menguasai Rakyat, entah itu uang, barang/materi dll.
Biasanya si partai akan berbuat seenaknya untuk memulihkan uang yang sudah keluar saat kampanye untuk bantuan ke Rakyat-Rakyatnya, sehimgga di pikiran Pemimpin (partai tersebut) hanyalah korupsi agar uangnya bisa pulih saat kampanye.
Semoga saja Wakil Rakyat Kita yang terpilih nantinya adalah Pemimpin yang benar-benar untuk Rakyat.
Agar Rakyat miskin bisa hidup makmur, bukannya malah yang kaya di buat kaya yang miskin di buat sengsara.
Pemimpin yang baik itu bisa merasakan keadaan Rakyat saat susah maupun senang, jadi Pemimpin selalu bersama Rakyat, Pemimpin adalah panutan Rakyatnya.#
Lebih lengkap baca model Tabloid
Gambar klik kanan pilih open New Tab atau Buka tautan Baru